Sabtu, 05 Maret 2011

[FF] First Love 2



Cast:

Park Ji Yeon

Park Chun Dong

Lee Ji Eun

Jang Woo Young


“tiiiiiiiiiiiitttt……”, suara klakson mobil Ji-yeon, ya seperti biasanya dia akan menunggu sahabatnya, Ji-eun yang lemot.

Ji-yeon, “hey… cepatlah sedikit!! Kita sudah terlambat…”. teriak Ji-yeon
Ji-eun, “jeongmal? Jam berapa sekarang?”.
Ji-yeon: aku hitung sampai lima, kalau tidak keluar juga aku akan pergi..”, ancam Ji-yeon.. “hana… deul… set…”.
Ji-eun, “ne… aku siap…”. Ji-eun datang sambil tersenyum

Selalu seperti ini mereka berdua mengawali hari.. Ji-yeon yang memiliki sifat jutek dan sangat sulit menerima orang yang baru dikenalnya, sedangkan Ji-eun memiliki sifat yang berlawanan dari Ji-yeon, Ji-eun sangat ramah dan mudah bergaul. Tapi inilah yang menjadi kekuatan mereka, mereka saling mengisi kekurangan dan kelebihan masing-masing. Ji-yeon dan Ji-eun bersahabat sejak mereka masih SMA, bagitu juga saat kuliah, mereka memilih universitas dan jurusan yang sama.

Ji-yeon, “aigoo.. kau ini selalu saja seperti itu.. kapan kau akan merubah sifat malasmu itu??”.
Ji-eun, “mian.. baiklah aku akan berubah, aku juga sudah bosan dengan ocehanmu itu”.
Ji-yeon, “jinjja?”. Ji-yeon tak percaya
Ji-eun, “ne.. aku janji”. Ji-eun yakin
Ji-yeon, “baiklah aku akan menunggu saat itu”

“annyeong…”, tiba-tiba ada seorang pria menyapa mereka, ya itu adalah Woo-young sunbae mereka.
Ji-eun, “annyeong Woo-young oppa”. sapa Ji-eun dengan senyum manisnya
Woo-young, “kalian baru datang? Sepertinya kelas kalian sudah masuk”. Woo-young memberitahu
Ji-eun, “gheojhitmal..” kata Ji-eun tak percaya
Woo-young, “benar, aku tidak bohong”
Ji-yeon, “ayo..!!”. kata Ji-yeon yang langsung menarik paksa Ji-eun
Ji-eun, “gomawo oppa…”, (Ji-eun sambil menunduk sembilan puluh derajat… “Woo-young oppa… neomu neumu meotjyeo…” gumamnya
Ji-yeon, “apa?”. tanya Ji-yeon tak tau apa yang dikatakan sahabatnya ini
Ji-eun, “gwenchana…”

Jang Woo-young adalah  sunbae mereka, dia salah satu namja yang populer dikampus mereka. Banyak sekali yeoja yang suka padanya, termasuk juga Ji-eun.


Setelah selesai kuliah…
Ji-eun, “aku benar-benar tak paham dengan penjelasan profesor Yoo”
Jiyeon, “bagaimana bisa paham? Sepanjang dia menjelaskan kau hanya melamun. siapa? Woo-young Oppa?”. tanya Ji-yeon
Ji-eun, “jinjja? apakah terlihat?”. perasaan Ji-eun
Ji-yeon, “tentu saja, di dahimu jelas-jelas tertulis ‘Jang Woo-young’”.
Ji-eun, “aisss… kau ini…”
Ji-yeon, “baegopheuda…”. keluh Ji-yeon
Ji-eun, “ne, nado. Meogeyo..!!”. ajak Ji-eun

Ji-eun, “kau tahu? Sudah berapa kali bibi menelponku?”.
Ji-yeon, “waeyo?”.
Ji-eun, “kau tanya mengapa? Kau ini… setidaknya sekali saja kau mengangkat telpon bibi, dia mencemaskanmu”.
Ji-yeon, “sudah… kau makan saja ini”. potong Ji-yeon sambil menyumpal mulut Ji-eun dengan makanan
Ji-eun, “aku kasihan dengan bibi, kenapa dia punya anak sepertimu… ckckck… dia pasti sangat sedih”, Jiyeon hanya diam mendengar mendengar keluhan sahabatnya ini... “Entah apa salah bibi dimasa lalu… anak kesayangannya ini tidak pernah menemuinya, bahkan tidak pernah menelponnya sekalipun. Apa kau benar-benar tidak ingin pulang?”.
Ji-yeo, “kau tahu sendiri, saat aku pulang ibu selalu menyuruhku kencan dengan orang-orang yang tak ku kenal…”. sahut Ji-yeon yang mulai emosi
Ji-eun, “baiklah, aku tahu. Tapi  setidaknya kau mau menelponnya. Kau yang selalu menyuruhku berubah, tapi kau sendiri tidak pernah berubah…”, lanjut Ji-eun… “Hmm… bagaimana kalau kita buat kesepakatan? Siapa yang bisa mengubah sikap dalam waktu dua bulan ini yang akan menang dan memperoleh sesuatu dari yang kalah…”. Ji-yeon mulai memikirkan sesuatu
Ji-yeon, “lalu apa yang kudapat saat aku menang? Sepertinya kau harus menyerahkan sepatu kesayanganmu itu padaku”.
Ji-eun, “huh… kau yakin sekali, aku yang akan menang”.
Ji-yeon, “kita lihat saja nanti. Aku pasti yang akan menang”.

Ji-yeon masih teringat dengan perkataan Ji-eun, sampai-sampai tidak dapat tidur semalaman.

Pagi hari.
Tidak seperti biasanya, pagi ini Ji-yeon tidak membangunkan Ji-eun yang merupakan ritualnya tiap pagi. “jam berapa ini?” pikir Ji-eun yang langsung gugup saat melihat jam, karena sudah telat bangun. Dengan secepat kilat Ji-eun langsung mandi dan bersiap-siap berangkat, tapi saat di depan rumah Ji-eun sudah tidak mendapati mobilnya. “dimana mobilku”, pikirnya kembali. “kriiiiiiiiiiiiing….. kriiiiiiiiing…….”, tiba-tiba handphone Ji-eun berdering, yup itu adalah telpon dari Ji-yeon.

Ji-yeon, “annyeon… kau sekarang pasti sedang mencari mobilmu, benar bukan?”.
Ji-eun, “kau ini… bisa-bisanya kau meninggalkanaku… eottokhae? Aku pasti terlambat lagi…”.
Ji-yeon, “sudah ku duga…”.
Ji-eun, “apa?”.
Ji-yeon, “kau pasti lupa kalau sekarang adalah hari libur…”.
Ji-eun, “libur?”, Tanyanya bingung sambil mengingat hari. “lalu sekarang kau kemana?”
Ji-yeon, “aku sedang memperjuangkan hadiahku”. Kata Ji-eun sambil tertawa

Setibanya dirumah, Ji-yeon masih ragu apakah dia harus masuk atau tidak. Tapi kemudian dia membulatkan tekat dan mulai mengetuk pintu. Tidak lama kemudian Bibi Gong membukakan.
Bibi Gong, “nona… anda pulang?”. Tanyanya pada Ji-yeon
Ji-yeon, “ne,.. dimana ibuku?”.
Bibi Gong, “nyonya ada dikamarnya… kenapa anda baru pulang?? Nyonya sangat mencemaskan anda, setiap hari diamelamun”. Bibi Gong menjelaskan
Ji-yeon, “khamsahamnida”.

“tok… tok… tok…”, Ji-yeon mengetuk pintu kamar ibunya.
Ji-yeon, “eommeoni…”. Panggilnya
Ibu J-yeon, “kenapa kau pulang?” tanya Ibu
Ji-yeon, “apakah ibu baik-baik saja?”. Bukannya menjawab Ji-yeon malah balik bertanya
Ibu Ji-yeon, “apa kau pulang karena merasa bersalah?”. Tanya Ibu Ji-yeon tanpa menatap anaknya
Ji-yeon, “jhwesonghamnida”. Ucap Ji-yeon menyesal
Ibu Ji-yeon, “kalau begitu lusa kau akan bertemu dengan anak Bibi Seo, anaknya itu kuliah di Amerika dan sekarang sedang liburan, selain itu dia juga anak yang sopan”.
Ji-yeon, “omma, aku kesini bukan untuk itu…”
Ibu Jiyeon, “aku sudah tidak bisa menunggu lama lagi. kau harus segera menikah!!”. Bentak Ibu Ji-yeon
Ji-yeon, “aku kan sudah bilang kalau aku tidak mau, lagi pula aku masih kuliah. Kenapa ibu selalu memaksaku?? Kalau ibu menyuruhku menikah lagi, aku benar-benar tidak akan menikah selamanya”. Ji-yeon balik membentak ibunya
Ibu Ji-yeon tak percaya dengan ucapan putrinya tersebut, “apa? Kau tidak akan menikah??”. Kemudian Ibu Ji-yeon roboh tak sadarkan diri
Ji-yeon, “eomma..!! eomma!!”. Teriak Ji-yeon panik

Ibu Ji-yeon sedang diperiksa dokter keluarga mereka…
Ji-yeon, “Dokter Oh, bagaimana keadaan ibuku?”, tanyanya panik
Dokter Oh, “sepertinya dia dalam tekanan… memang akhir-akhir ini kesehatannya tidakbegitu baik”, jawab dokter
Ji-yeon sedih mendengarnya, karena selama ini dia tidak mengetahui keadaan ibunya. “eottokhae?”, tanya Ji-yeon bingung.

Beberapa saat kemudian Ibu Ji-yeon bangun…
Ibu Ji-yeon, “kau masih disini?”, tanyanya, “kau pasti sudah dengar dari dokter kan? Itulah sebabnya kenapa aku memintamu cepat menikah”, lanjut Ibu
Ji-yeon, “eomeoni…”, rajuk Ji-yeon sedih
Ibu Ji-yeon, “ini fotonya”, kata Ibu Ji-yeon sambil menyerahkan selembar foto, “woryoil, kau akan bertemu dengannya”, lanjut Ibu
Ji-yeon, “ne… aratsoyo…”, jawab Ji-yeon malas

Ji-eun, “kau sudah pulang? Bagaimana tadi? Kenapa kau tidak menginap disana? Bibi tidak memarahimu kan? Apa dia memintamu kencan buta lagi?”, tanya Ji-eun tanpa titik, koma
Ji-yeon hanya menghela napas
Ji-eun menanggapi, “sepertinya tidak bagus”
Ji-yeon, “eottokhae? Ibuku menyuruhku bertemu seseorang selasa besok…”, kata Ji-yeon sambil memperlihatkan selembar foto pada Ji-eun


Ji-yeon, “lihatlah!! Dia sangat kuno. Kenapa di jaman modern ini dia masih memakai hanbok seperti ini???”, keluh Ji-yeon
Ji-eun, “mungkin dia sangat mencintai budaya kita”, jawab Ji-eun dengan polosnya
Ji-yeon, “aku sangat pusing”
Ji-eun, “dia tampan juga”, ucap Ji-eun yang masih memperhatikan foto
Ji-yeon, “aisss… kau ini”, ucap Ji-yeon sampil memukul Ji-eun… “oh ya, ada satu lagi”, tiba-tiba raut wajah Ji-yeon berubah
Ji-eun, “apa?”
Ji-yeon, “ternyata selama ini ibu menyembunyikan sesuatu dariku”


Flashback…
Ji-yeon, “dokter sebenarnya apa yang terjadi dengan ibuku?”, tanyanya cemas
Dokter Oh, “dari beberapa pemeriksaan yang telah dijalaninya, ada yang salah dengan jantungnya”, dokter menjelaskan
Ji-yeon shock mendengarnya…
Flashback end…


Ji-eun, “apa??!!”, tanya Ji-eun tak kalah shock
Ji-yeon, “itulah sebab mengapa ibu selalu memintaku untuk menemui pria-pria itu”, jawabnya sedih
Ji-eun mengahmpiri Ji-yeon kemudian memeluknya,”ini pasti saat-saat yang sulit untukmu… kau harus menghadapinya, aku tahu kau mampu melewatinya”, hibur Ji-eun
Ji-yeon, “gomawo…”, ucapnya sambil menangis

Woryoil… hari pertemuan (krncan buta) Ji-yeon…
Ji-eun, “mana dia?”, tanya Ji-eun yang sedari tadi mengikuti Ji-yeon
Ji-yeon, “sepertinya itu…”, jawab Jiyeon sambil menunjuk seseorang
Ji-eun, “woaaaa… dia lebih cute dari yang di foto”, kata Ji-eun, “apa kau tidak ingin menemuinya? Kalau begitu biar aku yang menemuinya”, lanjut Ji-eun dengan ganjennya
Ji-yeon, “kau duduk saja disini aku akn menemuinya. Dan siapkan saja hadiahku”, ucap Ji-yeon sambil berlalu

Chun-dong yang menunggu Ji-yeon

Ji-yeon, “sudah lama?”, tanya Ji-yeon tanpa basa-basi
Chun-dong, “annyeonghaseyo… naneun Park Chun-dong imnida… bhanggapseumnida…”, ungkap Chun-dong sambil memberi hormat
Ji-yeon, “tidak perlu seperti itu… aku tidak akan terkesan”, jawabnya sinis, “aku Ji-yeon. Langsung saja, aku kesini bukan karena keinginanku, tapiaku hanya ingin menuruti keinginan ibu”, lanjutnya
Chun-dong, “aratsoyo…”, jawabnya, “aku juga sebenarnya tidak terlalu suka dengan (perjodohan) ini. Tapi aku tidak ingin mengecewakan orangtuaku”, jelas Chun-dong
Ji-yeon, “baiklah… kalau begitu aku akan pergi”, ucap Ji-yeon yang langsung kabur meninggalkan Chun-dong yang hanya memandangi kepergiannya

Chun-dong Ji-yeon Couple

Ji-eun, “aigoo… kenapa cepat sekali?”, tanya Ji-eun langsung menghampiri Ji-yeon
Ji-yeon, “aku rasa sudah cukup”, jawabnya singkat, “ayo ke kampus…”, ajak Ji-yeon

Seusai kuliah, seperti biasanya mereka berdua duduk di tempat favorit mereka…
Ji-yeon, “bagaimana cara agar aku bisa lepas dari (perjodohan) ini?”, tanyanya sambil memikirkan sesuatu
Ji-eun, “apa?? kau tidak bilang kalau kau ingin membunuh ibumu kan??”, tanya Ji-eun tak percaya
Ji-yeon, “bukan seperti itu”, jawab Ji-yeon sambil memukul kepala Ji-eun, “aku ingin membuatnya tidak menyukaiku, dengan begitu dia akan mundur dari perjodohan ini”, jelasnya
Ji-eun, “ara”, jawab Ji-eun sambil memegangi kepalanya, “lalu apa yang akan kau lakukan?”, tanyanya
Woo-young, “ternyata kalian disini juga?”, kata Woo-young yang tiba-tiba datang
Ji-eun, “oppa… kau disini??”, tanyanya
Woo-young, “ini adalah tempat favoritku”, jawabnya sanbil tersenyum
Ji-eun, “jeongmal?? Ternyata kita punya kesamaan”, kata Ji-eun senang
Woo-young, “kenapa kau memandangiku seperti itu??”, tanya Woo-young salah tingkah, pada Ji-yeon yang sedari tadi menatap aneh padanya

Ji-yeon, “sini!!”, sambil menarik Ji-eun menjauh dari Woo-young.
Sedangkan Woo-young hanya memandangi mereka dari kejauhan…

Ji-eun, “oppa, apakah kau bisa membantu kami?’, tanya Ji-eun
Woo-young, “apa?”
Ji-eun, “begini… Ji-yeon sedang dalam masalah jadi…”, ucap Ji-eun mencoba menjelaskan
Ji-yeon yang tidak sabar, “begini sunbae, aku minta kau jadi pacarku”, katanya terus terang
Woo-young, “apa??!! Kau ingin aku jadi pacarmu??”, tanya Woo-young tak percaya
Ji-yeon, “bukan begitu maksudku… aku ingin kau pura-pura menjadi pacarku, agar aku bisa menolak seseorang”, Ji-yeon menjelaskan
Ji-eun, “oppa bisa membantu Ji-yeon kan? Doumhae…”, tanya Ji-eun
Woo-young, “baiklah… aku akan melakukannya”,jawab Woo-young setuju
Ji-eun menatap sedih pada Woo-young… “mengapa jadi seperti ini?”, tanyanya dalam hati, karena tak rela melihat orang ayng disukainya ini harus menjadi pacar sahabatnya, walau ini hanya pura-pura

‘kriiiiinggg…… kriiiinngg……”, handphone Ji-yeon erdering…
Ji-yeon, “yeoboseyo… eomeoni… ne… ne…”, jawabnya pada orang diseberang telepon

Setelah selesai mererima telpon, Ji-yeon berbicara dengan Woo-young…
Ji-yeon, “sunbae, dia akan kesini. Jadi, bersiap-siaplah…”, katanya memberi tahu
Woo-young, “ne… aku siap”
Ji-eun, “kalau begitu aku pergi dulu”, kata Ji-eun meninggalkan mereka
Woo-young, “kau mau kemana?”, tanyanya. Tanpa menjawab Ji-eun hanya tersenyum padanya.

Saat menuju perpustakaan Ji-eun bertemu Chun-dong…
Chun-dong, “bukankah kau teman Ji-yeon??”, tanya Chun-dong pada Ji-eun
Ji-eun balik bertanya, “apa? Aku?”
Chun-dong, “ne, kemarin aku melihatmu dengan Ji-yeon…”, jawabnya, “Ireumi mwoyeyo?”
Ji-eun, “oohh… jadi kau melihatnya?”, tanyanya salah tingkah, “Naneun Ji-eun imnida… kenapa kau disini?”
Chun-dong, ”bhanggapseumnida…”, ucapnya, “aku mencari Ji-yeon, bibi memintaku menjemputnya. apa kau melihatnya?”, lanjut Chun-dong menjelaskan
Ji-eun, “apa? Bibi yang menyuruhmu?”, tanya Ji-eun tak percaya. “dia disana”, jawab Ji-eun sambil menunjuk suatu tempat
Chun-dong, “gomawo…”
Ji-eun, “cheonmaneyo…”

Chun-dong Ji-eun Couple

Ji-yeon, “sunbae, kau sudah siap?”, tanya Ji-yeon pada Woo-young saat melihat Chun-dong
Woo-young, “ne…”

Ji-yeon langsung mengandeng lengan Woo-young ssat Chun-dong sudah dekat.
Ji-yeon, “oppa, baegopheuda…”, katanya dengan manja pada Woo-young
Woo-young, “kau mau makan apa?’, tanyanya
Ji-yeon, “apa ya??”, Ji-yeon balik bertanya, “aku suka semua makanan kau kau suka”, lanjutnya
Chun-dong hanya tersenyum melihat tingkah mereka, “aku disuruh bibi menjemputmu”, katanya pada Ji-yeon
Ji-yeon, “oh, kau… aku tidak mau, aku harus pergi dengan pacarku”, jawab Ji-yeon ketus
Chun-dong, “lalu apa yang harus ku katakan pada bibi?”, tanyanya
Ji-yeon, “kau bilang saja kalau kau sudah menjemputku. Bereskan??”, timpalnya
Chun-dong, “tapi aku tidak bisa berbohong… bagaimana kalau aku ikut kalian makan??”, tanya Chun-dong
Woo-young, “baiklah kalau begitu”, jawan Woo-young, Ji-yeon menatap Woo-young dengan tatapan kesal
Chun-dong, “ne… kita makan dimana??”
Ji-yeon, “oppa, bagaimana kalau ditempat favorit kita?”, tanya Ji-yeon dengan manjanya
Woo-young, “baiklah…”

Woo-young  Ji-yeon Couple

Saat menuju kantin, mereka bertiga bertemu Ji-eun…
Chun-dong, “Ji-eun… ayo kita pergi bersama…”, kata Chun-dong mengajak Ji-eun
Ji-yeon, “kenapa kau mengajaknya??”, tanya Ji-yeon
Chun-dong, “bukankah dia temanmu??’, Chun-dong balik bertanya
Ji-eun, “dia melihat kita kemarin”, Ji-eun menjelaskan

Keempatnya makan bersama di kantin kampus… ji-yeon terus saja menempel pada Woo-young yang merasa kurang nyaman dengan tindakan Ji-yeon.
Ji-yeon, “oppa, ini sangat enak”, kata Ji-yeon sambil menyuapkan makanan pada Woo-young,
Woo-young, “ne, ini sangat enak”, Woo-young menanggapi
Ji-eun hanya diam menahan cemburu, Chun-dong yang merasa peka pun mengajak ngobrol Ji-eun
Chun-dong, “sejak kapan kalian berteman??’, tanya Chun-dong pada Ji-eun
Ji-eun, “sudah lama, kira-kira sejak kami di sekolah menengah”, Ji-eun menjelaskan
Chun-dong, “dan sekarang pasti sudah menjadi sahabat baik”, Chun-dong mengomentari
Ji-yeon, “tentu saja. Kami sangat bahkan tinggal satu rumah, di rumah Ji-eun”, jawab Ji-yeon yang masih berakting mesra dengan Woo-young
Ji-eun, “aku pergi dulu… aku harus bertemu dengan profesor Yoo”, katanya, yang sebenarnya sudah tidak dapat menahan rasa cemburu
Woo-young mwmandangikepergian Ji-eun…
Ji-yeon, “baiklah… nanti kita ketemu di rumah”, kata Ji-yeon dan, “oppa, coba ini…”, Ji-yeon masih dengan aktingnya
Woo-young, “gomawo…”, ucapnya pada Ji-yeon
 Setelah makan Chun-dong langsung pamit pulang…
Chun-dong, “gomawo… kalian sudah mengajakku makan, lain kali aku yang akan mentraktir kalian”, katanya dengan sopan
Ji-yeon, “siapa yang mengajakmu? Kau sendiri yang ikut”, keluhnya perlahan

Sepeninggal Chun-dong…
Ji-yeon, “gomawo sunbae…”, ucapnya
Woo-young, “ne, cheonmaneyo…”, jawab Woo-young lemas
Ji-yeon, “waeyo?”, tanya Ji-yeon
Woo-young, “Gwenchana…”, jawabnya

Ji-eun baru pulang, saat melihat Ji-yeon sedang menelpon ibunya.
Ji-yeon, “ne, aku sudah bertemu dengannya. Sepertinya dia tidak menyukaiku”, kata Ji-yeon pada Ibunya, “ne… ne… apa aku harus bertemu dengannya lagi??”, tanyanya… “ne… ne… eomma, jaga kesehatan”, katanya lalu menutup telpon
Ji-eun, “aku pulang…”, katanya denagn lemas
Ji-yeon, “kau kemana saja? Kenapa baru pulang?”, tanya Ji-yeon pada Ji-eun
Ji-eun, “aku tadi ketiduran di perpus”, jawabnya sambil menghela napas
Ji-yeon, “sebenarnya ada apa denganmu?’, Ji-yeon kembali bertanya
Ji-eun, “gwenchana…”, jawabnya dengan wajah lesu, (wkwkwkwk… mana ada yang percaya kalau ngomong tidak apa-apa dengan wajah lesu gitu… ckckck)
Ji-yeon, “tadi sunbae bercerita tentang gadis yang disukainya padaku”, kata Ji-yeon
Ji-eun, “benarkah?”, tanyanya tambah lemas
Ji-yeon, “sunbae sudah lama menyukai gadis ini, tapi dia tidak berani mengungkapkan perasaannya”, Ji-yeon bercerita
Ji-eun berkomentar, “dia pasti menderita dengan perasaannya”
Ji-yeon, “sepertinya tidak, karena aku sudah mengatakan padanya kalau gadis bodoh itu juga menyukainya”
Ji-eun, “jinjja? Dia sangat beruntung. Siapa dia??”, Ji-eun sedih, tapi tiba-tiba raut wajahnya berubah, “bagaimana kau tahu kalau gadis yang disukai Woo-young oppa juga menyukainya?? Selama ini kau tidak pernah bergaul dengan orang lain selain aku”
Ji-yeon, “lalu??”, tanya Ji-yeon menggoda
Ji-eun, “apakah Woo-young oppa menyukaiku??”, tanya Ji-eun penuh harap


Flashback…
Ji-yeon, “waeyo??”, tanyanya pada Woo-young
Woo-young, “gwenchana”, jawabnya lemas
Ji-yeon, “Gheojhitmal… kau pasti sedang memikirkan sesuatu”, kata Ji-yeon
Woo-young, “anio…”, jawabnya
Ji-yeon, “apa kau menyukai Ji-eun??”, tanyanya tithe point
Woo-young, “a..aa.. apa?”, Woo-young terkejut mendengar ucapan Ji-yeon
Ji-yeon, “berarti benar kataku.. sejak kapan??”, Ji-yeon kembali bertanya
Woo-young, “aku tak tahu tepatnya, tapi sepertinya sejak kalian masih menjadi adik kelasku di sekolah”, Woo-young menjelaskan, “kau ingat saat aku minta foto dengannya dihari perpisahanku?”, tanyanya, “lihat ini”, kata Woo-young sambil memperlihatkan dompetnya, “aku menyimpan fotonya disini”, lanjutnya

Woo-young Ji-eun Couple

Ji-yeon, “sunbae, kau ini sangat memalukan”, komentar Ji-yeon
Woo-young, “apa maksudmu??”, tanya Woo-young tak mengerti
Ji-yeon, “kau adalah seorang pria, bagaimana mungkin kau tidak mengatakan ini pada wanitamu??”, tanya Ji-yeon tak percaya
Woo-young, “bagaimana aku mengatakannya? Aku takut dia menolakku, saat aku mengatakannya”, jawabnya
Ji-yeon, “kau ini… dia tidak akan menolakmu..”, kata Ji-yeon
Woo-young, “apa dia juga menyukaiku??”, tanyanya senang
Ji-yeon, “ne…”
Woo-young, “jeongmal??”, tanyanya meyakinkan
Ji-yeon, “kau tanya sendiri padanya”
Flashback end…


Ji-eun, “cham… apa oppa benar-benar mengatakan itu padamu??”, tanya Ji-eun tak percaya tapi juga sangat senang
Ji-yeon, “ne…”
Ji-eun, “jeongmal??”, tanya Ji-eun sambil loncat kegirangan

Paginya…
tidak seperti biasa, pagi ini Ji-eun bangun tanpa wekernya (Ji-yeon).
Ji-yeon, “ternyata cinta dapat merubah seseorang”, komentarnya
Ji-eun, “aiss.. kau ini”
Ji-yeon, “kau pasti ingin cepat-cepat ke kampus”, ledeknya

Sesampainya di kampus…
Ji-yeon, “kenapa matamu itu?”, tanya Ji-yeon masih menggoda Ji-eun
Ji-eun, “wae??”
Ji-yeon, “dia pasti sedang di tempat favoritnya”, kata Ji-yeon, “cepatlah kesana dan temui dia”, lanjutnya menganjurkan
Ji-eun, “apakah aku harus melakukannya?”, tanya Ji-eun ragu
Ji-yeon, “tentu saja… cepat sana!!”
Kemudian JI-eun pergi menuju tempat yang biasa di tongkrongi Woo-young… (wkwkwkwkwk… jelek banget bahasanya)

Ji-eun melihat Woo-young dari jauh, dia masih ragu apakah harus dia yang memulainya, tapi setelah lama berpikir, akhirnya Ji-eun memutuskan untuk menemui Woo-young oppa.
Ji-eun, “oppa…”, panggilnya malu-malu
Woo-young, “ne…”, jawabnya tak kalah malu
Ji-eun, “sujeubeuni jebal utji mayo”, katanya
Woo-young, “apa?”
Ji-eun, “Sarange ppajyeosseo sujubeun geol”, lanjutnya, “saranghae…”
Woo-young menggoda Ji-eun, “jeongmal?”
Ji-eun merajuk, “oppa…”
Woo-young, “sarang haja”, jawabnya
Kemudian mereka berpelukan…
Ji-eun, “oppa, apa kau tau?”, tanyanya pada Woo-young sambil mengeluarkan sesuatu dari tas. “ini… aku juga menyimpannya”, Ji-eun menunjukkan foto di dompetnya, ya itu adalah fotonya bersama Woo-young


Ternyata Ji-yeon dari tadi melihat mereka berdua dari kejauhan, dan tiba-tiba…
Chun-dong, “bukankah dia pacarmu? Kenapa dia berpelukan dengan sahabatmu?”, tanyanya pada Ji-yeon, yang terkejut dibuatnya
Ji-yeon, “apa urusanmu?”, Ji-yeon balikbertanya
Chun-dong, “apa kau tidak marah melihatnya??”, Chun-dong kembali bertanya
Ji-yeon yang frustasi, “itu bukan urusanmu…”, dan berjalan pergi meninggalkan Chun-dong
Chun-dong, “dia masih sama, tidak pernah berubah…”, komentarnya

Kembali ke pasangan yang sedang berbahagia…
Woo-young, “apakah kau mau kencan??”, tanya Woo-young
Ji-eun, “kencan??”
Woo-young, “hari minggu kau harus siap-siap dengan seragam sekolah kita dulu. Aku akan menjemputmu”, katanya
Ji-eun, “kenapa harus memakai seragam sekolah??”, tanya Ji-eun
Woo-young, “pakai saja… kau sangat imut saat masih sekolah”, jawab Woo-young
Ji-eun, “jadi sekarang aku sudah tidak imut lagi?”, tanya Ji-eun ngambek
Woo-young, “bukan begitu, dulu kau sangat imut dan sekarang kau sangat cantik”, rayu Woo-young
Ji-eun, “baiklah, aku akan memakainya”.

Ji-yeon berjalan sendirian…
Ji-yeon, “kenapa dia harus melihat ini?”, tanyanya dalam hati, “kalau seperti ini dia pasti tahu kalau kami hanya bersandiwara”, lanjutnya, “aigoo…”
Ji-eun tiba-tiba datang dan, “hey…”, mengejutkan Ji-yeon. “aku sangat bahagia”, katanya
Ji-yeon, “ara… chukae…”, katanya
Ji-eun, “kenapa wajahmu?”
Ji-yeon, “tadi Chun-dong melihat kalian berdua sedang berpelukan”, jawabnya lemas
Ji-eun, “apa?? Lalu bagaimana?”, tanyanya, “apa rencanamu selanjutnya?”, Ji-eun kembali bertanya
Ji-yeon, “aku tidak tahu…”, jawab Ji-yeon pasrah
Ji-eun, “eottokhae??”, tanyanya bingung
Ji-yeon, “sepertinya aku harus mengatakan padanya kalau aku tidak menginginkan perjodohan ini”, kata Ji-yeon
Ji-eun, “bukankah kau mengatakan kalau dia tahu hal ini sejak kalian pertama bertemu?”, tanya Ji-eun, “kalau dia juga tidak menginginkan ini, kenapa sebulan ini dia selalu menemuimu di kampus??”, tanyanya penasaran
Ji-yeon, “dasar babo!!”, katanya sambil memukul kepala Ji-eun, “bukankah dia bilang ini karena ibuku yang menyuruhnya??”
Ji-eun, “jeongmal?? Tapi ini aneh”, kata Ji-eun tak percaya, “coba pikir, kalau dia tidak menginginkan ini seharusnya dia bisa berbohong pada ibumu. Bilang saja dia sudah menemuimu, kenapa dia benar-benar datang kesini?”, lanjutnya
Ji-yeon, “dia bilang dia tidak bisa berbohong”, katanya hampir memukul Ji-eun lagi, tapi tangkis Woo-young
Woo-young, “kenapa kau selalu memukul Ji-eunku?”, tanyanya
Ji-eun malu-malu, “ah oppa… gwenchana, aku sudah biasa…” (wkwkwkwkwkwkwk… biasa dipukul)
Woo-young ke Ji-yeon, “sepertinya dia menyukaimu”
Ji-yeon, “hahahaha… tidak mungkin”, katanya
Woo-young, “lalu kenapa seorang pria selalu mengikutimu kalau bukan itu alasannya??”, tanya Woo-young
Ji-yeon bingung mau menjawab apa, “sudah… kenapa kalian membicarakan ini??”, katanya menyudahi, “aku pulang ke rumah ibuku. Apa kau mau ikut??”, tanyanya pada Ji-eun
Ji-eun, “ne…”

Akhirnya mereka berdua sampai di rumah Ji-yeon… seperti biasa, bibi Gong membukakan pintu.
ji-eon, “bibi, sudah lama tak melihatmu. Kau sehat kan?”, tanya Ji-eun pada Bibi Gong
bibi Gong, “ne, karena anda tidak pernah main kesini lagi. Aku sehat”, jawabnya
ji-yeon, “eomeoni… aku pulang…”, kata Ji-yeon saat melihat ibunya
Ji-eun, “bibi… annyeonghaseyo…”
Ibu Ji-yeon, “kau juga kesini? Sudah lama kau tidak datang. Bagaimana kabar orang tuamu?”, tanyanya pada Ji-eun
Ji-eun, “mereka masih di Jepang”, jawab Ji-eun
Ibu Ji-yeon, “oh begitu… apa kau sudah melihat tunangan Ji-yeon??”, Ibu Ji-yeon kembali bertanya
Ji-yeon, “eomeoni… apa-apaan ini??”
Ibu Ji-yeon, “bukankah kau selalu mengajak Ji-eun saat menemui seseorang??”, tanya Ibu
Ji-eun, “Jhwesonghamnida…”, kata Ji-eun tidak enak hati
Ibu Ji-yeon, “gwenchana… yang ini bagaimana?? Dia baikkan??”, tanya Ibu
Ji-yeon, “dia sangat baik, bahkan setiap hari dia selalu menemuiku dikampus”, jawab Ji-yeon ketus
Ibu Ji-yeon, “jeongmal??”, tanya Ibu Ji-yeonterkejut
Ji-yeon, “kenapa Ibu pura-pura terkejut seperti itu? Bukankah ibu yang menyuruhnya menemuiku dikampus??”, tanyanya
Ibu Ji-yeon, “jeongmal?? Ibu tidak pernah menyuruhnya melakukan itu”, jawab Ibu
Ji-yeon dan Ji-eun tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar…

Ji-eun, “ini aneh… sepertinya memang bener kata Woo-young oppa, dia menyukaimu”, kata Ji-eun ketika mereka dalam perjalanan pulang
Ji-yeon, “benar-benar tidak dapat dipercaya… chunnie oppa…”, pikir Ji-yeon
Ji-eun, “apa??”, tanya Ji-eun bingung
Ji-yeon masih bergelut dengan pikirannya, “ini tidak mungkin… Chunnie oppa…”


Flashback…
Jiyeon teringat saat dia masih kecil, dia sedang bermain ayunan dan dibelakangnya ada seorang anak laki-laki kecil yang mendorong untuknya…
Chunnie kecil, “apakah kau senang??’ tanyanya
Ji-yeon kecil, “lebih kuat lagi oppa…”, kata Ji-yeon minta di dorong lebih kuat
Karena saking kuatnya, Ji-yeon terjatuh dari ayunan…
Chunnie kecil panik, “Ji-yeon, kau tidak apa-apa??’, tanyanya
Ji-yeon kecil, “gwenchana oppa…”, jawabnya
Awalnya Chunnie kecil lega mendengarnya, tapi setelah dia melihat tangan Ji-yeon kecil yang terluka dia semakin panik.
Chunnie kecil, “Ji-yeon, tanganmu terluka”, katanya dengan panik kemudian menggendong Ji-yeon kecil pulang
Chunnie kecil, “bibi, tangan Ji-yeon terluka. Dia jatuh dari ayunan…”, katanya pada Ibu Ji-yeon
Ibu Ji-yeon mengobati luka anaknya, “gwenchana… ini hanya luka kecil”, katanya
Chunnie kecil, “sepertinya luka ini akanmembekas sampai besar nanti”, kata Chunnie kecil pada Ji-yeon kecil
Ji-yeon kecil, “jeongmal? Bukankah tadi ibu mengatakan kalau ini hanya luka kecil?”, tanyanya
Chunnie lecil, “kalau nanti tidak ada pria yang mau menikahimu gara-gara lukaini, aku akan bertanggug jawab”, katanya dengan tegas
Flashback end…


Ji-yeong memegangi tangannya dan bekas luka itu sudah tidak ada…
Ji-eun,”hey… hey…”, panggil Ji-eun yang sedari tadi dicuekin, “siapa dia?? Chunnie oppa??”
Ji-yeon hanya diam tanpa memberikan penjelasan
Ji-eun, “huhh… kau ini..”, keluh Ji-eun

Hari minggu tiba… saatnya Woo-young dan Ji-eun berkencan… Woo-young menjemput Ji-eun dirumahnya…
Woo-young, “kau sudah siap??”, tanyanya pada Ji-eun
Ji-eun, “ne…”, jawab Ji-eun



Ternyata Woo-young mengajak Ji-eun ke sekolah mereka dulu, keduanya memakai seragam sekolah mereka.
Ji-eun, “oppa… mengapa kau mengajakku kesini?”, tanyanya bingung
Woo-young, “mungkin ini sudah terlambat., tapi aku ingin mengatakannya”, kata Woo-young, “anggap saja kita masih sekolah”, lanjutnya
Ji-eun hanya mengangguk tanda setuju
Woo-young, “Molla mollahamyeo maeil geudaeman geurijyeo, bamen jamdo mot irutjyo…”, katanya, “sebenarnya sudah lama aku menyukaimu… saranghae…”, lanjutnya
Ji-eun, “oppa…”, katanya malu-malu
Kemudian mereka makan dikantin sekolah mereka




Kembali ke Ji-yeon… dia masih saja tenggelam dalam pikirannya. Dia berpikir kenapa beberapa hari ini Chun-dong tidak menemuinya lagi di kampus.
Kemudian dia teringan saat Chunnie kecil dan keluarganya akan pergi ke Amerika. Saat itu Ji-yeon kecil sangat marah pada Chunnie kecil, dia tidak mau menemui Chunnie kecil dalam beberapa hari. Akhirnya dia memutuskan untuk menemui Chunnie kecil.
Ji-yeon kecil, “kalau kau pergi, sebaikknya kau jangan kembali”, katanya marah
Chunnie kecil, “apa kau marah? Kau pasti sangat menyukaiku, itulah sebab mengapa kau sangat marah padaku”, kata Chunnie kecil

“kriiiing… Kriiiiinngg……”, dering telpon rumah
Ji-eun diseberang telpon, “kenapa kau mematikan handphone’mu??”, tanya Ji-eun kesal
Ji-yeon, “ada apa??”
Ji-eun, “tadi bibi menelponku. Katanya Chun-dong akan kembali ke Amerika”, kata Ji-eunmemberi kabar
Ji-yeon, “apa??”, tanyanya terkejut
Ji-eun, “mungkin sekarang dia sedang di bandara. Sebaikknya kau menemuinya. Bukankah di Chunnie oppa’mu??”, kata Ji-eun

Ji-yeon langsung pergi menuju bandara, dia berlari kesana-sini mencari keberadaan Chun-dong. Tapi tidak juga menemukannya, kemudian dia pergi ke ruang informasi…
Ji-yeon, “Neomu neomu yeppeo mami neomu yeppeo… Neomu bukkeureowo ohyeodabo su eobseo… Maldo motaenneun geol… saranghae…”, ungkapnya…

Merasa tidak ada respon, Ji-yeon pun memutuskan pulang… dengan lemas dia pulang…
Tiba-tiba ada seseorang yang bicara padanya… “jeongmal??”, ya itu adalah Chun-dong, “sejak kapan kau menyukaiku??”, godanya pada Ji-yeon yang hanya menatapnya
Chun-dong, “apa kau tidak ingin memelukku??”, tanyanya pada Ji-yeon
Ji-yeon masih saja diam menahan haru
Chun-dong, “aigoo… baiklah, kalau begitu aku yang akan memelukmu”, katanya, kemudian memeluk Ji-yeon
Ji-yeon, “kenapa kau jahat sekali padaku??”, tanya Ji-yeon sambil memukul-mukul punggung Chun-dong
Chun-dong, “mianhae…”
Ji-yeon, “mengapa kau tidak mengatakannya sejak awal??”, tanyanya sambil menangis haru
Chun-dong, “mianhae…”
Ji-yeon, “apakah kau tidak tahu?? Aku sudah sangat lama menunggumu”, ungkapnya
Chun-dong, “mianhae…”, kata Chun-dong asambil melepaskan pelukannya, kemudian mencium Ji-yeon…







NB:
×        Jeongmal : benarkah?
×        Ne : ya
×        Aigoo : aduh… ya ampun
×        Annyeong : selamat pagi
×        Oppa : panggilan untuk kakak laki-laki, dari adik perempuan
×        Sunbae : senior
×        Gheojhitmal : bohong
×        Gomawo : terima kasih
×        Namja : cowok
×        Yeoja : cewek
×        Neomu neumu meotjyeo : kau benar-benar tampan
×        Gwenchana : tidak apa-apa
×        Baegopheuda : aku lapar
×        Nado : juga/sama
×        Meogja : ayo makan (informal)
×        Meogeyo : ayo makan (formal)
×        Meogeupsida : ayo makan (hormat)
×        Waeyo : mengapa
×        Jhwesonghamnida : mohon maaf
×        Aratsoyo : aku mengerti
×        woryoil : senin
×        Doumhae : tolonglah
×        sujeubeuni jebal utji mayo : ini sangat memalukan, jadi jangan tertawa
×        Sarange ppajyeosseo sujubeun geol : aku merasa malu, karena aku jatuh cinta
×        Sarang haja : mari saling mencintai
×        Bamen jamdo mot irutjyo : semalaman aku tidak bisa tidur
×        Molla mollahamyeo maeil geudaeman geurijyeo : aku tidak tahu mengapa, tapi setiap hari aku memikirkanmu
×        Neomu neomu yeppeo mami neomu yeppeo : sangat tampan, hatimu sangat baik
×        Neomu bukkeureowo ohyeodabo su eobseo : aku sangat malu, sehingga tidak dapat melihatmu
×        Maldo motaenneun geol : aku tidak dapat mengatakannya setiap waktu   


 pembuatan FF ini terinspirasi dari drama DH dan beberapa kalimat dari lirik Gee-snsd... hehehe

6 komentar:

EvieBoemmieKyuhyun RF mengatakan...

Bguuus Saaay...
cieeee.. cieeeeee...
jd ketagihan bikiin FF neeh..
chukkae say... ^^

Ephi mengatakan...

gak juga cin... haha...
ni buat gara" masangin piku jiyeon ma thunder, kok diliat" mreka cocok... jadilah ni ff..
lebih suka jiyeon-thunder, dari pada jiyeon-minho... hehe...

Apni RF mengatakan...

hahha,,,shock tingkat tinggi,,ephi nulis FF??

Ephi mengatakan...

loch... emang nape bu??
kan ini udah yg ke-2...
jiah bupim gak perhatian ma aq nich... ckckck :(

syaoran mengatakan...

Ephi bnyk sekali kosakatanya.. ajarin dong biar ingat sma.. iya nih bu pim kagak perhatian..

Dear_Dhiyah mengatakan...

owwhh , to twweettttt
syka dech ma thunder n Jiyeon ^^