Kamis, 27 Januari 2011

[FF] First Love 1

Cast:
Park Jiyeon as Kim Tae Hee

Choi Minho as Park Tae Sang

Victoria as Kim Tae Ra



Nichkhun as Lee Shi Yoon


Ini adalah hari pertamaku bekerja, setelah berkali-kali di tolak di beberapa perusahaan, kini aku bekerja pada sebuah stasiun televisi swasta.
“annyeonghaseyo…”, sapaku ramah pada semua orang, yang ditanggapi tak kalah ramah oleh mereka “annyeong..”. “apa kau Tae-hee, pekerja baru disini?”, tanya seorang dari mereka, dan langsung ku jawab,”ne, Kim Tae Hee imnida..”. “eoseooseyo… itu ruangan manager kita, kau sudah ditunggu”, kata selah satu dari mereka memberitahu sambil menunjuk ruangan manager, “kamsahamnida”, ucapku berterimakasih.
“tok.. tok.. tok…”, aku mengetuk pintu ruangan manager “deureo oseyo”, sahutan dari dalam ruangan, kemudian aku masuk. “Cheoeum boepgyesseumnida.. jeoneun Kim Tae Hee imnida”, kataku sambil membungkuk, memberi hormat. “silakan duduk..”, katanya mempersilahkan, kemudian melenjutkan perkataannya, “langsung saja, nanti kau bekerja di bagian editing. Kalau butuh bantuan kau bisa bertanya pada rekan kerjamu. Selamat bekerja”.
Aku ditempatkan di bagian editing pada divisi kami, yaitu pada produksi reality show “First Love”. Biasanya aku hanya menonton acara ini di televisi, tapi mulaisekarang aku adalah bagian dari tim produksi di sini, batapa bangganya aku.
“aku pulang…” kataku sesampainya dirumah, dan disambut dengan pemandangan yang membuatku sirik. apalagi? Kakakku sedang bermesraan dengan suaminya.


(Ini adalah adalah foto kakaku dengan suminya, Lee Shi Yoon)

Karena kami sudah tidak memiliki orang tua, dan keluarga satu-satu adalah kakakku ini. Jadi setelah kakak menikah, dia mengajakku tinggal bersamanya dan suami. Mereka sangat menyayangiku.


(aku dan kakakku, Kim Tae Ra)

“kalian selalu saja seperti ini”, kaluhku melihat kemesraan mereka. “makanya cepat cari pacar…”, sahut kakak iparku dengan jahilnya. Sebenarnya aku juga ingin punya pacar seperti orang lainnya, tapi rasanya aku tidak siap dengan sebuah komitmen atau ini karena aku masih tidak dapat melupakan cinta pertamaku.
Waktuitu aku masih berumur 16 tahun dan masih berada di kelas 1 SMA. Saat pertama kali aku bertemu dengannya, dia seorang namja yang sangat cute, ditambah lagi dia adalah kapten basket di sekolah kami dan sangat popular di kalangan siswa yang lain, khususnya di kalangan yeoja.


(my first love, Paak Tae Sang)

Ternyata dengan nama depan kami yang sama, membuat kami cepat akrab. Apalagi setelah kami sama-sama menjadi pengurus OSIS, kami menjadi semakin dekat, bahkan kami jadi sering jalan-jalan bersama, dan akhirnya kamipun memutuskan untuk menjadi pasangan kekasih sejak saat itu. Hari-hariku berjalan dengan indah, kami selalu bersama dan tidak bisa di pisahkan sat itu. Sampai akhirnya Tae-sang memberikan kabar kalau keluarganya akan pindah ke luar negeri, saat mendengar kabar itu aku merasa ini tidak adil untukku. Sambil berlinang air mata aku mengungkapkan kegalauanku pada Tae-sang, “apakah kau benar-benar harus pargi? Tidak bisakah kau tetap tinggal bersamaku disini? Aku tidak akan bisa tanpamu”, Tae-sang menjawab, “mianhamnida.. tapi aku harus pergi.. yakinlah aku akan kembali”. “apakah kau benar-benar akan kembali? Apakah saat itu kita masih bisa bersama?”, tanyaku sambil terisak, “aku janji. Aku akan kembali untukmu”. Setelah mendengar janjinya perlahan aku mulai merelakan kepergiannya.


Mungkin ini yang menjadi alasan utamaku mengapa sampai sekarang aku masih belum dapat membuka hatiku untuk namja lain, karena sampai sekarang aku masih menunggunya.

“ayo bangun!!”, seru kakakku membangunkanku dari tidur. “kenapa matamu?”, kata kakak ambill melihat mataku, “Kau tidak sedang menangis untuk pria itu kan? Orang yang sudah meningalkanmu dan tidak pernah memberikan kabar sekalipun. Seharusnya kau cari pria lain, lupakan saja pria yang seperti ini”, lanjut kakakku. Aku hanya menghela nafas mendengar kata-kata kakakku.
Hari ini kantor tidak sepertibiasanya, pegawai wanita pada sibuk dengan agenda yang sama, menggosipkan host baru di acara kami. Host di reality show kami di ganti, ini karena kontraknya sudah habis. Dan host baru yang akan membawakan acara reality show kami ini sangat tampan, kata rekan kerjaku. “kau sudah lihat host baru kita? Dia sangat tampan, dia berasal dari luar negeri”, kata salah satu teman kerjaku, “tapi sayang, dia sudah punya istri” lanjutnya, yang hanya ku tanggapi dengan senyum.
“ini sangat gawat”, kata rekan kerjaku yang lain “kita tidak bisa syuting kali ini. Aku tidak yakin host baru kita bisa bekerja sendiri tanpa host pendamping”, lanjutnya. Ini karena biasanya dalam reality show kami memiliki dua host, jadi tidak mungkin kalau host baru ini harus bekerja sendiri. “bagaimana ini? Kita tidak mungkin melepaskan host baru sendirian?, timpal rekan kami yang lain, “kenapa dia (co-host lama kami) harus kecelakaan disaat seperti ini?”.
“kita bisa memakai host acara lain bukan?”, tanyaku dengan polosnya, “ini tidak mungkin. Kalau kita memanggil host lain akan membutuhkan banyak waktu”, jawab manager kami. “bagaimana kalau kita memakai host pengganti?”, usulku, “kita bisa memakai salah satu dari kami untuk menjadi host, karena kita lebih paham dengan acara kita terlabih lagi, ini tidak akan membutuhkan banyak waktu”, sahut kreatif kami. “yang langsung di setujui manager Yoon, “baiklah. Kalau begitu, Tae-hee kali ini kau jadi co-host. Cepat ganti baju”. Tanpa bisa menolak aku pasrah saja.
“Tae-sang siap?”, tanya salah satu rekanku pada host baru kami, dan dijawabnya “ready!!”, yang membuatku terkejut,tapi aku anggap ini hanya nama yang mirip. “Tae-hee.. kau sudah siap kan?”, tanya produser padaku, “ya” jawabku. “Tae-sang dan Tae-hee, ayo kesini..”, kata produser kami memanggil kami berdua yang berada diruangan berbeda. Dia benar-benar Tae-sungku, akhirnya kami bertemu lagi, tapi tidak dalam keadaan seperti yang kami harapkan dalam sepuluh tahun yang lalu, dia sudah memiliki istri. Kami tidak dapat menyembunyikan rasa terkejut kami, sangat jelas dimatanya ada semacam rasa bersalah tersimpan. Aku hanya memendanginya dengan perasaan yang campur aduk.


(Tae-sung dan istrinya)

“dan inilah host kita…. Park Tae Sung dan Kim Tae Hee”, kalimat dalam narasi. Aku berjalan disampingnya, kami berjalan beriringan dan harus tetap membawakan acara ini, yang sebenarnya sangat sulit. Tema kali ini adalah “menikah dengan cinta pertama”, tema yang sangat tidak kami harapkan.
Saat aku bertanya dengan bintang tamu kami, “bagaimana perasaan anda karena akhirnya kalian bisamenikah?”, “tentu saja kami sangat bahagia”, jawabnya, “kami pertama kali bertemu disekolah, waktu itu kami masih seorang pelajar di sebuah SMA”, lanjutnya. “saat itu kita masih sangat muda, tapi kami merasakan cinta yang begitu dalam”, timpal pasangannya, dan dilanjutkan dengan kalimat, “kebahagiaan kami ini tidak dapat di ungkapkan dengan kata-kata. Kalian pasti pernah merasakan cinta pertama kan? Rasanya jauh lebih membahagiakan dari itu”, tanyanya pada kami, dan kami hanya tersenyum getir menanggapinya. Acara kami kali ini berjalan dengan sukses, walaupun tidak begitu denganhati kami.

Respon masyarakat sangat bagus dengan duet kami, dan karena kesuksesan ini, manager pun memintaku untuk menggantikan co-host kami sampai dia sembuh dari cedera karean kecelakaan beberapa hari lalu. “karena rating yang tinngi, aku putuskan Tae-hee akan membawakan acara ini sampai Hye-mi sembuh dari cederanya”, kata manager Yoon, yang ku tanggapi dengan kurang antusias, “bagaimana kalau yang lain saja pak? Rasanya aku masih banyak kekurangan dalam membawakan acara ini”, “tapi ratinglah yang berbicara, rating kita tidak turun. Dan ini membuktikan kalau kau pantas dengan acara ini, kalian berdua hebat”. Rapat ditutup dengan keputusan kalau aku akan tetap menjadi pembawa acara dalam reality show ini minggu depan.
Aku pulang dengan parasaan kacau, sampai aku bertemu dengan Tae-sung di depan gedung. “bagaimana kabarmu?”, tanyanya padaku, “baik”, jawabku sambil memaksakan tersenyum, “kau bagaimana? Aku dengar kau sudah menikah?”, tanyaku balaik, “aku juga baik. Sebenarnya…. Iya”, jawabnya terbata-bata. “selamat ya.. semoga kalian bahagia..”, kataku padanya.
“aku pulang…”, kataku setelah sampai rumah dan lagsung menuju kamar, tanpa menghiraukan kakakku. “kau tidak apa-apa kan?”, kata kakakku sambil mengikutiku ke kamar, “tadi kami melihatmu di televisi”,tambah kakak ipar, “aku baik-baik saja, aku lelah, aku ingin istirahat”, jawabku. “dia pasti sangat sedih”, kata kakak ipar pada kakakku, “bagaimana mungkin mereka bertemu setelah sekian lama dalam keadaan seperti ini”, kata kakakku tidak percaya. “sabaiknya kau bicara padanya, hiburlah dia.. ini pasti akan menjadi saat-saat yang sulituntuknya”, tambah kakak ipar pada kakakku. “kami tahu pasti kau sangat sedih.. tapi bagaimanapun juga kau harus menata hidupmu, kau lihat sendiri dia sudah memiliki pasangan”, nasehat kakak padaku, “aku tidak apa-apa, tadi aku sudah bicara padanya. Aku lega karena akhirnya aku bisa bertemu dengannya, walaupun kenyataannya tidak sesuai dengan harapanku”, kataku menguatkan diri sambil menahan air mata. “aku tahu.. adikku akan baik-baik saja. Aku yakin itu, karena adikku sangat kuat”, ucap kakaksambil berkaca-kaca.




“Kalian sangat populer akhir-akhir ini. Kau tahu? banyak yang mulai mencari kalian untuk wancara”, kata temanku bercerita, dan aku hanya menanggapinya dengan senyuman. “Tae-hee, manager memanggilmu”, kata rekan kerjaku yang lain.
”shillye hamnida…”, kataku sambil menghadap manager, “deureooseyo…”, jawabnya mempersilahkan masuk, dan langsung menyampaikan maksudnya, “begini, karena banyaknya respon, nanti akan ada beberapa wartawan yang kemari untuk mewawancarai kalian berdua, jadi kau bisa bersiap-siap mulai searang. Tadi aku sudah menghubungi Tae-sang, dan sekarang dia sedang dalam perjalanan kesini”. “baik manager”, jawabku dengan perasaan yang berkecamuk.
Sesi wawancara dimulai, awalnya wartawan hanya menanyakan tentang pekerjaan kami dan reality show yang kami bawakan, tetapi semakinlama merekamulai menanyakan tentang kehidupan pribadi kami. Dan yang paling membuatku tercengang adalah saat mereka menanyakan, “bukankah kalian berasal dari ssekolah yang sama? Ku dengar kalian sangat akrab saat itu?”, kami hanya tersenyum getir mendengarnya, “iya, dulu kami satu sekolah, bahkan satu angkatan dan sekarang kami juga masih berteman dengan sangat baik, iya kan Tae-sang?”, jawabku sambil bertanya balik pada Tae-sang, “kita selalu berteman dengan baik” jawabnya sambil menatapku dengan pandangan yang penuh arti. “bagaimana kehidupanmu dengan istrimu?”, tanya wartawan pada Tae-sang, yang membuat kecanggungan kami semakin menjadi, “kami baik-baik saja”, jawab Tae-sung singkat. “tapi yang ku dengar dari beberapa sumber, kalian sudah tidak tinggal bersama. Apakah itu benar?”, tanya wartawan yang lain, mendengar hal itu aku langsung menatap Tae-sang dengan pandangan penuh tanya. “ah tidak, itu Cuma kabar burung saja”, jawabnya seperti menutupi sesuatu. Setelah wawancara, kami kembali ke pekerjaan kami masing-masing. pertanyaan terakhir wartawan tadi masih mengusikku, aku merasa ada yang aneh dengan jawaban Tae-sang, tapi apa??
“apa kau ada waktu?”, tiba-tiba ada suara yang membuyarkan lamunanku. “a..apa?”, tanyaku terbata-bata, “ada yang ingin aku bicarakan padamu”, ucap Tae-sang. “sebenarnya begini..”, Tae-sang mulai bercarita. ”saat itu perusahaan kami hampir gulung tikar, kemudian ayah menjodohkanku dengan putri rekan bisnisnya, dan kami tidak dapat menolaknya”, aku mendengarkan dengan seksama. “kami akhirnya menikah. Tapi ini hanya sebagai kedok, karena setelah meninah kami tetap menjalani kehidupan kami masing-masing. Seung-yeon, istriku menjalani hidupnya diluar negeri dengan kekasihnya, sedangkan aku kembali kesini”, ungkapnya sedih, “kehidupan pernikahan kami tidak pernah bahagia, karena ini hanya sebagai barter semata”. “maafkan aku karena tidak dapat menepati janjiku padamu”, lanjutnya menyatakan penyesalannya, “andai saja saat itu aku dapat menolaknya. Pasti aku tidak akan menyesal seperti ini”. “kau pasti menderita selama ini, bagaimana mungkin aku tidak memaafkanmu, tapi ini butuh waktu. Aku tidak munafik, aku memang sempat membencimu, tapi juga bukan kesalahanmu. Mungkin kita memang tidak berjodoh”, ungkapku. “bisakah kita berteman lagi?”, tanyanya penuh harap, “tentu saja, kita adalah teman. Kau dapat bercerita tentang apa saja padaku”, jawabku.
Ku akui, sebenarnya aku memang sakit hati padanya, dan aku rasa akan sulit untuk memaafkannya. Tapi aku akan mencobanya.

Kerja kami makin solid, dan hubungan kami semakin hari makin membaik. Tapi ada satu yang tidak bisa di pungkiri, aku masih sangat mencintainya. Masalah tiba-tiba muncul, gosip tentang keretakan rumah tangga Tae-sang dan Seung-yeon makin menjadi dan ini dikaitkan dengan kedekatan kami, aku dianggap sebagai orang ketiga yang menghancurkan rumah tangga mereka. Tim kami sibuk mengkonfirmasi tiap telpon yang berdering, juga mengkonfirmasi pada wartawan yang datang langsung untuk menanyakan kabar ini. Tiap hari aku mendapat teror melalui telpon, bahkan ada juga yang terang-terangan datang kerumah untuk menerorku. Mereka menganggap kalau aku adakah perusak rumah tangga orang, dan dengan beredarnya rumor ini akupun harus diliburkan sementara dari pekerjaanku. Sedangkan Tae-sang mengundurkan diri dari pekerjaan ini.

“apa lagi ini?”, kaluh kakakku yang sedari tadi mengangkat telpon teror. “kau ini bagaimana? Kau kan tau kalau dia sudah punya istri, tapi kenapa kau masih saja berhubungan dengannya?”, keluh kakakku padaku. “aku hanya berteman dengannya. Bagaimana mungkin aku bermusuhan dengannya, sedangkan kami memiliki pekerjaan yang sama, yang mengharuskan kami untuk sering bertemu. Apakah ini salah?”, tanyaku frustasi. “maafkan aku”, jawab kakak merasa bersalah.
Tiba-tiba, “hei kalian.. ayo sini!!”, panggil kakak ipar. “lihat itu!!”, lanjutnya seraya menunjuk televisi, kemudian kami sama-sama melihat televisi yang sedang menayangkan konferensi pers tentang gosip kandasnya rumah tangga Tae-sang dan Seungyeon. Kami melihat mereka yang sedang menjelaskan permasalahan yang mereka hadapi, bahkan mereka juga mengungkapkan perihal pernikahan ‘barter’ mereka. Dan saat wartawan menanyakan tentang hubungan kami, Tae-sang menjawab “sebenarnya kami memang memiliki hubungan khusus, tapi bukan saat ini. Melainkan saat kami masih sekolah dulu, saat itu hubungan kami lebih dari sekedar teman”, aku hanya berkaca-kaca mendengarkan pernyataannya. “dan sekarang kami hanya berteman. Tolong, kalian jangan membuat rumor sepeerti ini lagi. Dia sudah banyak menderita karenaku”, lanjutnya. “sekarang kami hanya ingin mengumumkan kalau kami sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Kami resmi bercerai”, timpal Seung-yeon mengakhiri konferensi pers. Kakak dan kakak ipar terbelalak menatapku.

Akhirnya aku mulai kerja lagi, dan kali ini aku sudah menempati posisi semula menjadi seorang editor karena Hye-mi sudah sembuh dari cederanya. Hariku kembali seperti semula.


3 bulan kemudian….

“aku tidak telat kan?”, suara seseorang membuyarkan lamunanku. Ya, itu adalah Tae-sang. “tidak ko. Aku juga baru keluar”, jawabku sambil tersenyum manis padanya. “kau mau makan apa?”, tanyanya ramah, “heemm…. Apa ya?”, jawabku bingung. “baiklah. Kau ikut saja”, katanya sambil menarikku ke suatu tempat.
“kenapa kita kesini?”, tanyaku heran, ini adalah kedai favorit kami saat masih sekolah dulu. “aku ingin makan disini”, jawab Tae-sang santai, “kau ini..”, timpalku. Kami menikmati makanan malam dengan sangat bahagia…


Flashback

Seminggu setelah konferensi pers itu Tae-sang datang padaku, “sebelumnya maaf karena aku telah membuatmu menderita selama ini.. dan apakah aku dapat mengganti penderitaanmu dengan membutmu bahagia selamanya… saranghae…” ungkapnya. “Nan neoreul sarang hago saenggak haetda”, jawabku.




Nb:
×           Annyeonghaseyo : selamat pagi
×           Eoseooseyo : selamat datang
×           Kamsahamnida : terimakasih
×           Deureo oseyo : silakan masuk
×           Cheoeum boepgyesseumnida.. jeoneun Kim Tae-hee imnida : apa kabar? (untuk pertemuan pertama) Nama saya Kim Tae-hee
×           Shillye hamnida : permisi
×           Saranghae : aku cinta kamu
×           Nan neoreul sarang hago saenggak haetda : aku pikir aku juga mencintaimu

13 komentar:

EvieBoemmieKyuhyun RF mengatakan...

hihihi.. chukae iia saaay..
akhirnya d posting jugaaa.. ^^
sukaa.. baguus..
apalagi ending nyaa..
haha

Iya RF mengatakan...

Sukaaaa... Singkat, padat dan jelas, happy ending lg. Byk pikunya jg...


Conggratulation Ephi.. *keprok2*

Iya RF mengatakan...

NB: bhs Korea nya d terjemahin atuch. Sebagian engga d mengerti sm Iya (sbnrnya sich byk).. Hehehe..

Ephi mengatakan...

gomawo udah baca ff eke..
ditunggu komen"Na..

tanya ahjumma aja teh.., yg lebih pinter bhsa koreaNa.. eke mah kacangan

desmi@mie_paredonk mengatakan...

sekarang mie baru tahu n rada jelas liat tampang jiyeon dan minho.
hehehe
suka suka suka ma ceritanya.
tp yg jd istri tae sang syp ya?

Meri mengatakan...

Bagus...bagus....bagus...ephi
hehe kirain bkl sad ending.......

Meri mengatakan...

Bagus...bagus....bagus...ephi
hehe kirain bkl sad ending.......

Anonim mengatakan...

Aida rf
ff pertama yg aku baca yg banyak pikux . .
Memuaskan . .
Luv it . .
Chukae chukae . .

ai mengatakan...

keren!! waaah, ikut seneng liat pemerannya seneng di endingnya..:)
iya, bahasa koreanya ditranslate atuuuuh, saia byk gak ngertinya , cuman nebak2 wkwkwk

Hesty putri mengatakan...

wahhh.. minHo yg jd castny,, gntengg!!

critany menarik phi, ne pov'a Tae Hee ya.. kciann, yang ditunggu dtng2 malah udh nikah!! ckckck.. untung de happy end^^

baguss".. bkin lg phi, tp di share di fb jg y.. haha

caica mengatakan...

asyik Phi... tulis lagi yaa ^_^

Bulia mengatakan...

lebih banyakin Phi kalimat percakapan banhsa Korea nya.. jangan lupa terjemahannya ^_^

april mengatakan...

bagus ka, jadi pengen belajar bahasa korea lebih dalam lagi ^^